Mengunjungi Muzium Kesenian Islam di Kuala Lumpur [Malaysia]

Saya kan anaknya suka sama yang terang, lapang, modern, serta bebas spooky buat milih hotel, museum, dan tempat-tempat lainnya.
Nggak tau juga sih, apa di Indonesia ini sudah ada museum yang ketje selain Museum Tsunami Aceh, yang meski sepi dan spooky tapi arsitekturnya modern dan keren.
Heemmm, mungkin sekarang udah banyak ya museum yang didesain modern macam di luar negeri. Cuma saya udah kadung parno masuk museum karena kenangan masa lalu. hehehe
Baca juga: Pengalaman Menjelajahi Banda Aceh Sampai ke Puncak Geurutee
Berbeda dengan museum yang saya kunjungi baru-baru ini di Kuala Lumpur Malaysia yang sama sekali nggak gelap dan nggak spooky. Pokoknya lapang dan terang benderang. Penataan artefaknya pun menarik dan enak untuk dilihat.

Muzium Kesenian Islam Malaysia atau Islamic Arts Museum Malaysia namanya.
Museum yang dibangun tahun 1998 ini merupakan museum kesenian Islam yang terbesar di Asia Tenggara dengan 12.000 koleksi artefak yang bertujuan untuk menjaga, mengumpulkan, memelihara, serta mendidik masyarakat tentang kesenian Islam. Luasnya 30.000 m2, terletak di Kompleks Taman Tasik Perdana Kuala Lumpur, dekat dengan Masjid Nasional Malaysia.
Ada 4 lantai yang terbuka untuk umum:
Di lantai ini terletak pintu utama jika kita akan masuk ke museum. Setelah masuk kita akan ketemu lobby macam hotel berbintang dengan mas-mas dan mbak-mbak yang ramah yang akan melayani kita untuk pembelian tiket masuk musem.
Di sisi lain ada museum shop yang menjual sovenir khas dari Islamic Arts Museum Malaysia, seperti mug, kaos, magnet, gantungan kunci, dll.
Setelah kita membeli tiket, mas atau mbak di resepsionis akan memberikan leaflet panduan pengunjung dan mengarahkan kita untuk naik ke lift menuju lantai selanjutnya.
![]() |
Lobby |
Di lantai G ini terdapat lobby dengan hiasan kubah terbalik di atap ruangan. Kemudian ada 2 buah galeri yang berisi pameran dengan tema tertentu dan di waktu tertentu.
Pertama adalah galeri terbuka, yang saat itu bertema lukisan masjid-masjid di Malaysia, yang dipamerkan dari tanggal 29 November - 11 Desember 2018.
Lukisannya bagus-bagus lho, dan kita bisa tahu masjid-masjid di Malaysia seperti apa bentuknya dalam versi lukisan.
![]() |
salah satu artefak yang dipamerkan di pameran Al-Tibb: Healing Traditions Islamic Medical Manuscripts |
Di ruangan lain ada toko sovenir yang lebih besar dari yang ada di lantai LG. Selain menjual sovenir khas dengan lambang museum, juga menjual stationery, buku-buku yang berkaitan dengan sejarah dan kesenian Islam, keramik, kerajinan dari kayu, dan lainnya. Di belakang museum shop ada perpustakaan anak-anak.
Di teras luar ada taman pancuran air yang pas saya ke sana doi lagi mejen. Kalo kita lapar jangan khawatir, soalnya bisa jajan di restoran yang tersedia di dekat lift belakang.
Baca juga: Plesir ke Malaysia Bersama Mbak R - Hari ke-1
Lantai 1:
Naik lagi ke lantai selanjutnya. Oia, ada 2 lift serta 1 ramp yang bisa digunakan untuk menuju ke lantai 1.
Nah, di lantai 1 inilah koleksi-koleksi artefak seni Islam dipamerkan. Semua artefak dimasukkan dalam peti kaca yang sudah diatur suhunya untuk menjaga artefak supaya tidak rusak.
Koleksi-koleksi di lantai 1 ini dikelompokkan menjadi 5 bagian.
- Galeri arsitektur, yang berisi maket masjid dan makam dengan arsitektur keren dan bersejarah yang ada di dunia. Saya suka dan sangat menikmati bagian ini, soalnya maketnya mirip banget dengan aslinya. Ada maket Masjid Ibn Tulun di Mesir yang dibangun abad ke 9, Masjid Selimiye di Turki yang dibangun abad ke 16, sampai maket Taj Mahal India juga ada di sini. Selain maket, ada juga contoh ruangan jaman kekaisaran Ottoman tahun 1235 Hijriyah yang menggambarkan kehidupan Suriah Utsamiyah.
- Galeri manuskrip Al-Qur'an, memperlihatkan koleksi perkembangan gaya tulisan arab dari awal mula Al-Qur'an yang ditulis di atas velum, buku-buku hadits dan doa, silsilah Rasulullah, sampai risalah hukum islam.
- Galeri India, Galeri Cina, dan Galeri Melayu, masing-masing menampilkan kekayaan warisan budaya berupa barang-barang khas yang terbuat dari perak dan bihar, senjata tradisional, tembikar, pakaian tradisional, dan lainnya.
Naik ke lantai 2 berisi galeri barang-barang seperti perhiasan, tekstil, perkakas kayu yang menampakkan gaya hidup di masa lalu, senjata, mata uang, logam mulia, serta keramik.

Di setiap lantai juga disediakan kursi untuk sekedar duduk beristirahat jika kaki kita pegel ngiterin setiap sudut museum. Toilet bersih juga ada di lantai G dan lantai 1.
Saat saya ke sana ada beberapa turis bule dan Asia Timur yang mengunjungi museum ini, mereka cukup antusias melihat satu demi satu koleksi yang ada.
Sejauh ini, Islamic Arts Museum Malaysia adalah salah satu museum favorit saya. Koleksinya mengingatkan saya pada museum yang ada di Istana Topkapi Turki, dengan versi yang modern.
Buat kalian yang lagi jalan-jalan ke Kuala Lumpur, nggak ada salahnya mampir ke sini sambil belajar tentang sejarah kesenian Islam, insya Allah tidak mengecewakan seperti bayangan masa lalu saya tentang museum.
Baca juga: Menghabiskan Akhir Pekan di Kuala Lumpur
Buka: setiap hari jam 9.30 pagi - 6.00 petang, termasuk hari libur, kecuali libur Idul Fitri dan Idul Adha
Tiket masuk (termasuk pajak dan masuk ke galeri khusus):
Dewasa RM 14.00
Pelajar dibawah 18 tahun, dosen, dan lansia warga negara Malaysia RM 7.00
Anak-anak dibawah 6 tahun gratis
Jika galeri khusus sedang tutup (sedang tidak ada pameran), tiket masuknya menjadi:
Dewasa RM 12.00
Pelajar dibawah 18 tahun, dosen, dan lansia warga negara Malaysia RM 6.00
Anak-anak dibawah 6 tahun gratis
Fasilitas penunjang: baby strollers, kursi roda, dan lockers.
6 komentar
Saya juga belum pernah masuk Museum. Kecuali Galeri Nasional. Itupun bagian belakang rada gelap. Serem gitu.. hahaha.. agak deg-degan masuknya. Tapi kalo Galeri emang gak boleh banyak lampu. Takut pigment warna lukisannya pada rusak.
ReplyDeleteitu kayak pengalamanku masuk museum BI di kota tua Jakarta. makin ke belakang makin horror makin gelap & serem. mungkin efek bangunan tua.
Deletehiiiiiii....
Saya juga belum pernah masuk Museum. Kecuali Galeri Nasional. Itupun bagian belakang rada gelap. Serem gitu.. hahaha.. agak deg-degan masuknya. Tapi kalo Galeri emang gak boleh banyak lampu. Takut pigment warna lukisannya pada rusak.
ReplyDeleteMuseumnya kayak mall mbak, cerah, ga bakal muncul penampakan aneh aneh kalo begini :D beberapa kali ke museum di daerah saya buat tugas sekolah, bikin merinding meski siang hari, huhu
ReplyDeleteNah kan...
Deleteternyata bukan cuma saya yang punya pengalaman 'prindang-prinding' di museum. hiiiiy.....
Salam kenal dari saya blogger pemula,
ReplyDeleteSekalian ingin belajar di mari..
Silakan tinggalkan komentar, tapi mohon maaf komentar saya moderasi karena banyaknya spam.
Mohon untuk tidak menyertakan link hidup, ya...
thanks,